Manusia Hebat
Manusia hebat itu manusia yang seperti apa sih? Apakah manusia yang setiap hari membanggakan jumlah uang yang dia punya?
Apakah manusia yang merasa dirinya pasti masuk surga dan merasa bahwa orang lain pasti masuk neraka?
Apakah manusia berpenghasilan ratusan juta rupiah dan merasa bahwa Tuhan mewajibkan dirinya untuk berjalan mendongak diatas bumi?
Saya tidak tahu apa itu manusia hebat, saya jelas bukan manusia hebat. Saya bukan siapa-siapa. Bagi saya, hidup sehat, cukup, sederhana, itu sudah cukup untuk saya.
Untuk beberapa orang itu tidak cukup. Ya bagaimana lagi, lain orang lain Tuhan. Saya sudah resmi menghapus Tuhan dari otak dan hati. Mau bagaimana lagi?
HEROISME KONYOL
Menurut anda mana yang benar?
Heroisme, sekonyol apapun, tetaplah heroisme.
Atau
Kekonyolan, seherois apapun, tetaplah kekonyolan.
Kalau saya herois bukan, konyol iya. Seorang senior dikantor malah berkata,
Jangan jadi pahlawan. Seorang pahlawan, hanya akan mendapatkan batu nisan.
Apakah sehina itu nilai batu nisan. Bukankah pada akhirnya semua orang akan juga mendapatkannya. Sekaya, setampan, sehebat dan setinggi apapun jabatan manusia, bukankah kembali menjadi batu nisan pada akhirnya.
Or dust …
LOGIKA SEDERHANA
“You can’t handle the truth!” Begitulah teriak Jack Nicholson, dalam film A Few Good Men. Ya, anda tidak bisa menghadapi kenyataan. Kenyataan yang saya maksud tentu saja adalah bahwa minyak bumi adalah sumberdaya alam tidak terbaharukan dan jumlahnya makin lama makin sedikit, dan manusia sebagai pengguna minyak bumi jumlahnya semakin banyak. Dalam logika sederhana dan hukum permintaan dan penawaran maka harga minyak bumi tidak bisa tidak akan terus naik dan naik. Bukan pemerintah yang menaikkan harga minyak, tapi jumlah manusia dibanding jumlah minyaklah yang membuat mekanisme ini terjadi.
“Menaikkan harga minyak akan menambah jumlah fakir dan miskin di Indonesia” Begitu teriak anda. Maybe so. Fakir adalah orang yang tidak berpenghasilan dan tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Miskin adalah orang yang berpenghasilan, namun penghasilannya tidak cukup memenuhi kebutuhan hidupnya. Maka kata kunci baik untuk fakir ataupun miskin sama sekali bukan pada harga atau minyak, tapi pada penghasilan dan kebutuhan. Minyak adalah kebutuhan, benar, tapi kalau penghasilan cukup untuk membelinya maka tidak ada masalah kemiskinan, benar?
Antara kaya dan miskin sendiri sebenarnya kebanyakan ilusi yang kita ciptakan sendiri. Di satu sisi sebagian orang bisa benar-benar kesusahan atau malah sama sekali tidak mampu memenuhi kebutuhan makannya, sementara di satu sisi sebagian orang justru terus-menerus menikmati ketamakannya makan dalam volume tak terkira dengan harga selangit, terus-menerus dan dipamer-pamerkan.
Maka dalam logika sederhana saya, kalau Rusia malah menikmati pertumbuhan ekonomi yang pesat di angka harga bensin Rp. 10.000 kenapa Indonesia begitu takut menyongsong kenaikan BBM kali ini? Karena kita tidak bisa menghadapi kenyataan.
Kenyataan pertama adalah populasi. Lihat sendiri perbandingan populasi di dunia (http://en.wikipedia.org/wiki/World_population). Ketika populasi Asia diprediksi mencapai hampir 4 miliar di tahun 2005. Populasi Eropa hanya sekitar 750 juta saja. Kalaupun jumlah uangnya sama, bisa kita lihat eropa bakal lima kali lebih sejahtera dari pada asia. Apalagi kalau uangnya banyakan sana? Saya tahu beberapa diantara tidak suka pada bahasan ini, dimana mungkin anda menganggap bahwa saya anti pada pertumbuhan populasi (banyak anak). Tentu saja tidak, saya hanya berpendapat bahwa kita harus lebih bertanggung jawab pada tindakan kita.
Kenyataan kedua adalah konsumsi energi dan limbah. Saya tidak habis pikir dengan orang yang terus-menerus membeli barang komplementer bahkan untuk barang-barang yang mereka sudah punya, hanya untuk sekedar mengikuti trend, atau sekedar tidak mau kalah dengan teman sekantor atau tetangga. Anda tahu berapa besar energi limbah yang dibuang untuk membuat satu sepeda motor, satu komputer, atau satu handphone? Anda tahu berapa konsumsi energi dan limbah untuk membuat sebuah mal atau apartemen? Anda tentu saja tidak mau disalahkan, karena anda tidak pernah salah.
Kenyataan ketiga adalah perut. Kalau anda sering membaca tulisan dee (http://dee-idea.blogspot.com) maka anda pasti tahu betapa besar perusakan hutan, laut, emisi karbon, dan limbah yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan perut kita (baca: daging dan ikan). Walaupun daging dan ikan halal hukumnya tetap saja kita harus bertanggung jawab dan bijak atas jumlah konsumsi kita.
Kenyataan keempat adalah rokok. Anda tahu berapa banyak lahan pertanian yang dipakai untuk menghasilkan tembakau?. Soal tenaga kerja apa bedanya bekerja di lahan penghasil padi atau palawija dibanding di lahan penghasil kanker dan penyakit paru-paru? Belum lagi produksi kertas untuk kemasan dan linting rokok, gabus filter, plastik, cukai, genjreng, yang semuanya terbakar habis menjadi limbah?
Kenyataan kelima adalah jalan-jalan gak perlu. Kenapa sih anda gak betah di rumah? Kenapa anda lebih betah di mal? Di cafe-cafe? Di diskotik atau night club? Karena anda lebih suka menyampah dan memproduksi limbah, ketimbang menciptakan surga di rumah anda.
Atau mungkin bisa saja saya yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa Human are the architect of their own demies.
Leave a Comment