Archive for April, 2008|Monthly archive page

FANTASI SURGA

Salahkah orang bermimpi akan surga? Salahkah orang menjadikan sebagai tujuan hidupnya kelak, setelah habis kehidupan yang ia jalani sekarang?

Tidak semua orang bisa terlahir dan menjalani hidup yang berkecukupan dan terpelajar. Tidak semua orang bisa kuliah atau sekolah di Jepang, atau berkarir sebagai dosen, atau kaum terpelajar lainnya. Ada orang yang hidupnya jauh dari semua hingar bingar. Ada orang yang ketika orang lain masih tidur terlelap, dia harus berangkat dalam pekatnya kabut pagi dan udara pegunungan yang dingin menusuk. Mulai pagi hingga matahari terbenam dia harus bekerja di sawah, berteman dengan teriknya panas matahari, berbekal hanya satu botol minum, dan makan jatah nasi pemberian sang pemilik sawah.

Ketika pulang ia temui istri dan anak-anaknya, menemani mereka bercanda, membaca majalah-majalah bekas dan usang, sambil menemani si kecil yang sedang asik mengerjakan PR dari sekolah. Rasa pegal dan penat terlebur bersama pijitan ikhlas sang istri. Dan ketika semua sudah tertidur, sang bapak pergi ke surau, untuk mendengarkan petuah dan nasihat, tentang kebenaran, tentang kesabaran, dan kabar gembira bernama surga.

Dengan penuh perhatian ia menyemak semua perkataan sang ustadz, merenungi dirinya dan mencari apa yang masih kurang, apa yang ia belum mampu kerjakan. Salahkah laki-laki ini kalau dia mengharapkan semua kesabaran dan perjuangan hidupnya yang keras nantinya akan dibalas dengan sebuah kehidupan yang lebih baik? Untuk dirinya, anak dan istrinya? Balasan berupa surga, adalah satu-satunya yang membuat dia bertahan dan bersabar. Adalah surga yang membuat ia menahan diri dari gelap mata dan bertindak tanpa aturan.

Apakah salah kalau ia melakukan hal-hal kecil dan remeh, yang oleh orang-orang terpelajar di sebut ‘mengkultuskan dan berlebih-lebihan’, sementara menurut orang-orang terpelajar itu yang boleh dikultuskan hanyalah jagoan yang mengeluarkan sinar api dari tangannya, atau jagoan pedang yang setiap hari membunuh, yang setiap hari mereka resapi dan renungi dari kotak kecil berwarna-warni bernama televisi?

Mungkin terlalu banyak ia berpikir, seharusnya ia berpikir saja tentang cangkul, tentang arit, tentang traktor dan pupuk. Atau soal angkringan.

NDAGEL KOK REPOT

Ndagel sudah ada sejak jaman dahulu kala. Ndagel adalah obat mujarab untuk stress. Bahkan di ajang dimana manusia saling membantai seperti pertarungan Gladiator di Romawi Kuno, ndagel selalu disisipkan.

Ndagel adalah sebuah solusi. Solusi temporer tepatnya. Misal kalau lagi gak punya uang trus ndagel ke diri sendiri, “Biar gak punya duit yang penting ganteng”. Tapi sasaran ndagel jenis ini adalah diri sendiri. Ndagel seperti ini kalau anda katakan kepada orang lain, jadinya nanti malah anda yang di dageli “Percuma ganteng mas kalau gak punya duit”.

Jangan ndagel kalau gak bisa ndagel. Trus sok akrab, sok gaul, bahkan kadang sok bijaksana. Karena dagelan bermutu tidak dibangun atas dasar lompatan kuantum. Dagelan bermutu muncul atas sebagaimana anda mampu memahami persoalan orang lain dan bukan sejauh mana anda ingin menanamkan pemahaman anda kepada orang lain. Itu bukan ndagel, itu doktrinasi namanya.

Tapi ada juga dagelan yang tidak lucu. Dagelan yang malah bikin kesel orang lain. Kalau anda ndagel tentang para adiluhung yang sekarang menjadi raja dan ratu di negeri ini, kadang para raja dan ratu itu tidak menganggap lucu dagelan anda dan akhirnya dagelan anda dibredel dan dibubarkan.

Dagelan jenis apa yang sampean sukai mas dan mbakyu sekalian? Jangan lupa mampir ke angkringan saya ya?

BOYONGAN

Kenapa saya kok pindah menulis disini? Karena perubahan. Ada yang bilang kalau hari ini sampean sama kayak hari kemaren sampean rugi. Kalau sampean lebih buruk dari kemarin sampean cilaka. Sampean cuman untung kalau melakukan upgrade dari hari ke hari. Bukan upgrade handphone atau komputer saja. Tapi juga upgrade perilaku dan tetek bengek.

Misal kalau kemaren sudah bisa bangun pagi ya sekarang ditambahi ngelap motor. Upgrade nya gak harus sekonyong-konyong, bisa aja perlahan-lahan. Lagian biar sudah lama punya blog, yang namanya nge-blog saya ini masih belajaran. Maka harapannya kalau kemarin saya nulisnya masih belepotan di kanan kiri, semoga hari ini saya belepotannya di kanan saja atau dikiri saja.

Spidolhitam.com sejak awalnya memang saya jadikan tempat bakulan dan kemudian berkembang jadi tempat nggak karu-karuan. Jadi tempat saya berlagak ngerti blog lah, jadi tempat saya ini dan itu yang akibatnya kegiatan bakulan malah terganggu, dan pembeli berpikir bahwa saya gak bakulan lagi. Nah lo, cilaka, dapur saya bisa gak ngepul lagi dong. Jadi saya putuskan untuk ngapur tembok sekalian bersih-bersih. Balik cas-cis-cus boso londo lagi, bukan karena saya pinter ngomong londo, tapi karena saya ini memang londo, londo loyal, yang di jual keliling lewat depan rumah kalau sudah jam sembilan malam.

Ya buat sampean-sampean yang sudah kenal saya, saya celometannya sekarang disini saja bukan di angkringan tempat saya mengucurkan kopi nasgitel (panas legi kentel). Nanti malah tumpah semua dan saya tekor. Oke? Kalau gak oke, eko saja, atau keo (kearch engine optimazion), atau koe (koe serabi, koe lemper, koe getuk, dan seterusnya). Tumpang siram kupat, nyuwun ngapunten sedaya lepat.

Oya buat penggemar serial Ridwan Susanto, nantikan kelanjutannya di blog ini.

Next Page »