FANTASI SURGA
Salahkah orang bermimpi akan surga? Salahkah orang menjadikan sebagai tujuan hidupnya kelak, setelah habis kehidupan yang ia jalani sekarang?
Tidak semua orang bisa terlahir dan menjalani hidup yang berkecukupan dan terpelajar. Tidak semua orang bisa kuliah atau sekolah di Jepang, atau berkarir sebagai dosen, atau kaum terpelajar lainnya. Ada orang yang hidupnya jauh dari semua hingar bingar. Ada orang yang ketika orang lain masih tidur terlelap, dia harus berangkat dalam pekatnya kabut pagi dan udara pegunungan yang dingin menusuk. Mulai pagi hingga matahari terbenam dia harus bekerja di sawah, berteman dengan teriknya panas matahari, berbekal hanya satu botol minum, dan makan jatah nasi pemberian sang pemilik sawah.
Ketika pulang ia temui istri dan anak-anaknya, menemani mereka bercanda, membaca majalah-majalah bekas dan usang, sambil menemani si kecil yang sedang asik mengerjakan PR dari sekolah. Rasa pegal dan penat terlebur bersama pijitan ikhlas sang istri. Dan ketika semua sudah tertidur, sang bapak pergi ke surau, untuk mendengarkan petuah dan nasihat, tentang kebenaran, tentang kesabaran, dan kabar gembira bernama surga.
Dengan penuh perhatian ia menyemak semua perkataan sang ustadz, merenungi dirinya dan mencari apa yang masih kurang, apa yang ia belum mampu kerjakan. Salahkah laki-laki ini kalau dia mengharapkan semua kesabaran dan perjuangan hidupnya yang keras nantinya akan dibalas dengan sebuah kehidupan yang lebih baik? Untuk dirinya, anak dan istrinya? Balasan berupa surga, adalah satu-satunya yang membuat dia bertahan dan bersabar. Adalah surga yang membuat ia menahan diri dari gelap mata dan bertindak tanpa aturan.
Apakah salah kalau ia melakukan hal-hal kecil dan remeh, yang oleh orang-orang terpelajar di sebut ‘mengkultuskan dan berlebih-lebihan’, sementara menurut orang-orang terpelajar itu yang boleh dikultuskan hanyalah jagoan yang mengeluarkan sinar api dari tangannya, atau jagoan pedang yang setiap hari membunuh, yang setiap hari mereka resapi dan renungi dari kotak kecil berwarna-warni bernama televisi?
Mungkin terlalu banyak ia berpikir, seharusnya ia berpikir saja tentang cangkul, tentang arit, tentang traktor dan pupuk. Atau soal angkringan.
No comments yet
Leave a reply